Sunday, October 15, 2017

[Random Thought] Siklus

Banyak banget pertanyaan yang sering terlintas di pikiran gue ketika masalah hidup lagi nggak berat-berat banget. Mulai dari pertanyaan absurd sejenis, "Kira-kira parallel universe itu beneran ada atau nggak sih?" sampe pertanyaan yang nggak bakal ada jawaban macem, "Kenapa dulu gue males banget belajar ya?". Yaa, pertanyaan-pertanyaan kayak gitu deh, yang pilihannya cuma 2, antara misteri ilahi atau emang sekedar retorika aja. Tapi, semakin banyak waktu yang gue punya buat mikirin hal lain selain hidup gue sendiri, semakin berfaedah juga ternyata hal-hal yang gue pikirin.

"Buat siapa sih kita berbuat baik?"

Pertanyaan itu yang lagi menganggu gue akhir-akhir ini. 

"Buat diri sendiri lah. Kita berharap orang lain melakukan hal yang sama untuk kita."

Seminggu lalu gue naik commuter line sekitar jam 3 sore dari arah Jakarta ke Bekasi. Which is jam segitu gerbong kereta belum penuh sama pekerja komuter, tapi penuh sama ibu-ibu yang entah habis ngurus sesuatu atau sekedar belanja di Tanah Abang. Kebetulan sekali, gue dapet tempat duduk waktu itu. Sampe akhirnya masuk seorang nenek dari stasiun Gondangdia. Karena gue liat tempat duduk udah penuh, gue melakukan hal yang sewajarnya dilakukan orang lain kalo ada di situasi dan kondisi yang sama; mempersilahkan nenek itu untuk duduk. Such a priceless moment ketika si nenek senyum ramah sekali sambil berterima kasih. Bahkan kayaknya, itu ucapan terima kasih paling tulus yang pernah orang lain ucapkan ketika gue melakukan hal sejenis. Lalu pertanyaan tadi menggema lagi di pikiran gue, "Buat siapa sih kita berbuat baik? Emang gue beneran pamrih ya?"

Padahal, berbuat baik kan harus ikhlas, nggak boleh mengharapkan imbalan.

"Nggak pamrih kok, gue cuma seneng aja bantu orang. Apalagi kalo liat orang itu seneng."

Sebenernya ucapan itu nggak bullshit sama sekali karena gue beneran seneng liat orang yang gue bantu dengan sebuah bantuan sederhana bisa sesenang itu. Tapi berarti, gue nolong nenek itu karena gue merasa senang kan? Ujung-ujungnya gue berbuat baik buat menyenangkan diri sendiri.

Eh ada pertanyaan lanjutan.

"Kalo gitu manusia yang beribadah juga pamrih dong? Mereka kan berharap diberi surga oleh Tuhan?"

Gue selalu mikir, kalo seandainya Tuhan nggak ngejanjiin surga buat umatnya yang taat pada-Nya, kira-kira masih ada nggak ya manusia yang mau ibadah? Berarti bener dong kalo manusia itu berbuat baik karena mengharapkan timbal balik, at least dapet kebaikan yang sama atas apa yang udah dia lakukan dari orang lain? Semakin lama dipikirin otak gue rasanya mau meledak, langsung merasa jadi manusia paling berdosa karena udah mikir hal yang nggak seharusnya dipikirin. 

Sebentar.

Emangnya gue selalu berharap diberi kebaikan oleh Tuhan ketika gue berdoa ya?

Nope.

Mungkin iya beberapa kali tapi nggak selalu. Berdoa bukan cuma perihal meminta, tapi juga tentang bagaimana menyampaikan terima kasih kepada Tuhan. Ya, terima kasih karena masih dikasih kesempatan untuk bernafas dengan tenang atau karena sekedar diberi rasa bahagia.

Begitu juga dengan kebaikan yang gue kasih ke orang lain. Bukan pamrih karena mau diperlakukan sama dengan yang udah gue korbankan di masa yang akan datang, tapi sebagai bentuk terima kasih karena gue mungkin pernah diberikan kebaikan yang berbeda tapi sama besarnya. Mungkin nenek yang gue persilahkan duduk di commuter line minggu kemarin habis melakukan suatu hal yang baik sehingga hak beliau lah untuk diberikan kebaikan yang sama. Atau ketika seorang teman mau membantu gue, mungkin karena dia pernah diberikan hal yang serupa dari orang lain sehingga merasa harus menebar kebaikan juga.

Pada akhirnya, hidup ini seperti siklus yang harus kita teruskan untuk membuat kebaikan yang ada terus berputar, bukan?

Friday, October 6, 2017

[Memoar] Sabit

Peradaban manusia butuh menunggu selama 1876 tahun sampai dunia bisa terhubung oleh alat bernama telepon.
Rowling juga harus ditolak 12 penerbit untuk kemudian bisa menjadi penulis dengan karya yang dilabeli 'Best Seller'.
Oh, dan jangan lupakan Juliet yang harus mengakhiri hidupnya dengan pisau untuk bisa bersama pujaan hatinya, Romeo.
Beberapa hal terlihat rumit untuk bisa bertemu terangnya.
Padahal, fajar hanya membutuhkan satu detik setelah sinar matahari pertama jatuh untuk bisa disebut pagi.
Seperti aku yang hanya membutuhkan kamu untuk bisa kembali melengkungkan sabit di bawah hidungku.

Friday, September 29, 2017

[Random Thought] Tepat Waktu

"Kenapa sih lo selalu ngaret?!"
"Ya lo datengnya kecepetan sih jadi kesannya gue lama!"
"Mendingan dateng lebih awal kan daripada telat?"

Waktu. Sesuatu yang sangat dihargai oleh sebagian orang sedang sebagian lainnya nggak menganggap itu penting sama sekali. Selalu terlambat ketika janjian mutlak sebuah kesalahan, tapi datang jauh lebih awal pun buat gue sama salahnya. Kubu anti jam karet selalu merasa dirinya benar, termasuk kebiasaannya datang jauh lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan. 

Ketika lo membuat janji di waktu tertentu, jangan lupakan kemungkinan bahwa lo dan teman janjian lo memiliki kegiatan di waktu sebelumnya. Lo mungkin bisa datang lebih awal karena kebetulan jadwal lagi lengang. Coba bayangin rasanya jadi temen lo yang lagi sibuk ngurus suatu hal tiba-tiba dapet chat dari lo yang kurang lebih isinya, "Gue udah di X ya." padahal pas doi cek jam, masih kurang 45 menit dari waktu janjian kalian. Kalo kalian temen deket sih paling dibales, "Yaelah cepet banget. Jam 1 masih lama kali!". Tapi kalo dia bukan temen deket lo dan dia adalah tipe yang sangat menghargai waktu, pasti dia bakal bales, "Aduh sorry banget ya gue masih di Y, 30 menit lagi paling lama gue sampe deh. Sorry ya.". Lo membuat seseorang harus minta maaf atas kesalahan yang sebenernya bukan punya dia.

"Loh kan gue cuma ngasih tau doang. Gue juga nggak berharap dia minta maaf kok!"

Let me tell you one short story.

Kebetulan, dosen pembimbing skripsi gue juga menjabat sebagai kepala prodi gue, which is banyak sekali yang harus beliau urus di luar mahasiswa bimbingan dan mahasiswa di matkul yang beliau ajar. Kebayang dong ya sibuknya kayak apa. Setiap kali bimbingan, gue harus email atau chat beliau buat nentuin jam pasti bimbingannya. Gue selalu datang tepat waktu, nggak pernah ngaret. Pernah satu kali gue kebetulan udah di kampus dari pagi dan semua urusan gue hari itu udah selesai kecuali bimbingan. Gue liat jam dan mikir, "Masih setengah jam dari waktu janjian, Nggak apa deh ke ruang kaprodi aja. Toh lampu di ruangannya udah nyala beliau pasti udah di sana.". Setelah gue sampai di sana, dosen pembimbing gue beneran udah di sana dan gue, dengan senangnya, ngetuk pintu ruangannya karena gue tau beliau lagi nggak ada tamu. Kemudian beliau ngeliat gue dengan ekspresi agak kaget sambil lihat jam lalu ngomong, "Loh, Git, janjiannya masih setengah jam lagi kan? Saya masih ngurusin berkas ini nih. Masuk dulu aja, sorry ya saya selesaiin ini dulu sebentar."

Yang gue rasain? Perasaan nggak enak luar biasa karena udah ganggu waktu beliau, udah bikin beliau minta maaf padahal salah gue datengnya kecepetan, dan rasa nggak enak karena beliau jadi terburu-buru nyeselesaiin kerjaannya. Menurut lo gue mau bikin beliau minta maaf? Nggak, gue cuma mau nunjukkin kalo gue nggak suka ngaret.

Nggak apa-apa banget kalo lo mau dateng lebih awal, tapi nggak usah bikin panik temen janjian lo dengan ngirim pesan kalo lo udah di tempat janjian sebelum waktunya. Nggak semua orang di dunia ini suka ngaret, dan nggak cuma lo di dunia ini yang menghargai waktu. Ketika lo sangat menghargai waktu yang lo punya dan kesal ketika ada orang yang datang terlambat, coba juga untuk hargai waktu yang orang lain miliki dengan tidak menganggu sebelum waktunya.

"Coba aja kita ketemu lebih awal ya, Git."
"Loh, kalo kamu dateng lebih awal aku belum tentu bisa sama kamu sekarang. Ini udah waktu yang paling tepat kok."

Tepat waktu. Bukan sebelumnya atau datang terlambat.

Friday, August 18, 2017

[How to Deal with Life 101] Your Goals Matter

Tujuan bukan sesuatu yang umum dimiliki setiap orang. Sebagian mungkin sudah menata hidupnya sedemikian rupa, menentukan tujuannya, dan segala upaya untuk bisa sampai kesana. Tapi sebagian lagi, bahkan nggak menganggap tujuan sebagai sesuatu yang penting. Let it flow, they said. 

Gue suka banget mengamati perilaku orang buat kemudian ditelaah sifatnya. Rasanya seru aja, semacam nonton film dengan karakter yang super banyak. Temen-temen terdekat gue misalnya, sering banget gue jadiin sasaran ke-sotoy-an gue untuk mendalami ragam sifat orang. Kadang, mereka malah minta gue menjabarkan sifat buruk mereka, buat dijadiin bahan introspeksi. Nah, ini yang susah. Semakin sering gue jabarin sifat seseorang, gue ketemu di satu titik kesimpulan; nggak ada sifat yang benar-benar baik atau benar-benar buruk. But, of course, there are several characters that bother me.

Salah satu sifat yang paling menarik buat gue, nggak lain ya, iri hati. Sounds childish, isnt it? Gue pun berpikir demikian. Mungkin gue emang terlalu naif karena beranggapan sifat iri hati ya cuma dimiliki sama anak kecil. Kakak yang iri sama adiknya karena lebih disayang orang tua, atau anak SD yang sirik liat temennya punya tempat pensil baru. Sesederhana itu. Tapi nyatanya, sifat ini pun masih sering banget gue temui ada pada orang sepantaran gue. Nggak kayak sifat lainnya yang sama-sama dilabeli dengan 'sifat buruk', iri hati ini menurut gue nggak berdampak buruk ke orang sekitar kecuali ke diri orang yang bersangkutan. Apa sih yang sebenernya dicari dari orang-orang dengan sifat ini?

Mereka butuh motivasi.

Terkadang, liat apa yang orang lain udah berhasil raih, membuat sebagian orang terpacu buat meraih hal yang sama, entah itu hal baik atau pun buruk. Bagus kalau dua individu itu punya tujuan yang serupa, mereka bisa jadi sparing partner yang baik, mungkin. Tapi, masalah bakal jauh lebih rumit ketika tujuan hidup yang satu, berbeda dari yang lain. Iya, si iri hati pasti bakal selalu bandingin apa yang telah dia raih dengan apa yang telah orang lain raih. Kemudian, bakal muncul perasaan insecrue yang bikin dia parno, takut dikalahin sama orang yang dia anggap lawan.

'Wah bagus dong kalau emang bisa memotivasi buat jadi lebih baik lagi?'

Ya bagus, tapi nggak akan ada rasa puas yang mau mampir. Serakah. Padahal, hidup ini bukan tentang menang atau kalah, tapi tentang pencapaian tujuan. Banyak orang yang tujuan hidupnya jadi orang kaya, tapi jelas, mereka punya indikator yang berbeda-beda buat dikategorikan sebagai orang kaya. Atau punya tujuan hidup buat membahagiakan keluarganya. Bahagia yang seperti apa? Memberikan barang mewah kah atau sekedar meluangkan waktu? Your goals matter. Menurut gue, punya tujuan adalah salah satu cara buat ngilangin rasa iri hati. Ketika kalian merancang tujuan beserta titian tangga buat mencapainya, di sana kalian udah satu langkah lebih maju daripada sifat iri yang ada di hati.

Lagi-lagi gue terdengar naif.

'Yaelah tujuan doang mana bisa bikin sifat iri hati hilang?'

Jelas bisa. Iri hati ini sebenernya turunan dari sifat labil. Punya tujuan sendiri bisa bikin kita jadi nggak terdistraksi sama apa yang orang lain kerjakan atau capai. Dan lagi, gue rasa nggak sepantasnya kita membandingkan diri kita sama orang lain kalau cuma sekedar mencari motivasi. Apa yang udah dilalui gue dan kalian jelas beda, begitu juga dengan kalian dan mereka. Nggak adil rasanya kalau harus bandingin diri sendiri sama orang lain yang bisa aja pernah merasakan penderitaan yang belum pernah kita rasain. Tapi, ada satu orang yang bisa kalian jadiin bahan perbandingan buat jadi lebih baik in order to achieve your goals; your own past self. Kalau kalian selalu merasa lebih buruk dari orang lain, coba tengok ke belakang, apa kalian yang sekarang lebih buruk dari kalian di masa lalu? Cuma diri sendiri yang bisa dijadiin perbandingan. Nggak cuma adil buat lo yang sekarang, tapi juga buat lo di masa depan.

Kalau kalian punya rasa iri sama orang lain, coba cek lagi tujuannya udah jelas belum? Atau kalau tujuan udah jelas tapi ternyata masih sirik, iri sama diri di masa depan aja, di mana kalian udah berhasil raih apa yang kalian mau. Selamat berkutat bersama tujuan!


Monday, July 10, 2017

[Random Thought] Etalase

Manusia dan media sosial sekarang ini udah nggak terpisahkan banget. Ngelakuin hal seru sedikit, update. Kumpul sama temen-temen sebentar, update. Lagi galau, update. Semua orang, yang bahkan mungkin nggak kenal deket sama lo, bisa tau lo lagi di mana, sama siapa, lagi ngapain, apa yang lo rasain, kondisi hati lo gimana dan seterusnya seterusnya seterusnya. Tenang, gue nggak lagi nyindir siapapun. Karena kenyataannya, gue juga melakukan hal yang sama.

Wait.

Gue? Kayak ada yang salah.

Seminggu lalu, entah kesambet apa, gue mutusin buat nggak buka social media, spesifiknya, Instagram. Kenapa cuma Instagram? Karena, serius, buat gue Instagram social media paling racun yang pernah gue punya. Padahal, sejak pertama kali gue bikin Instagram, paling banyak gue posting satu bulan sekali. Setahun pun foto yang gue post nggak pernah lebih dari 5 biji. Buka Instagram juga kalo lagi pengen aja. Tapi, surprise, tahun ini yang notabene baru jalan 6 bulan, gue udah nge-post foto lebih dari 10. Bahkan sekarang ini, literally tiap gue pegang handphone, aplikasi pertama yang gue buka ya Instagram. Kenapa?

Konten yang gue post di socmed, mostly, adalah sesuatu yang kira-kira menunjukkan kalo gue bahagia. Bahagia. Kemudian gue mikir. Emang kalo gue bahagia, semua orang harus tau? Gue bahagia nggak cuma baru-baru ini aja kok. Tapi kenapa baru sekarang gue ngumbar kebahagiaan? Pencitraan? Nope. Gue beneran bahagia. 

Buat orang yang kenal deket sama gue, pasti ngerasain banget perubahan ini. Karena mereka juga yang pernah mati-matian nyuruh gue bikin Path dan Snapchat (waktu dua socmed ini lagi super happening) tapi gue tolak dengan alesan, "Gue nggak suka main socmed yang pamer location atau kegiatan harian kayak gitu.". Asumsi gue sih mereka nggak mau bilang ini ke gue karena mereka tau gue sedang butuh sesuatu buat meluapkan apa yang gue rasain.

But then I realized, I'm not me anymore. Bukan lagi gue yang 'nggak suka umbar daily life di socmed'. And I think, I should back to my old me. Bukan, gue bukan si idealis yang nggak mau main socmed sama sekali dan sedang berjuang mempertahankan idealisme yang gue pegang teguh. Gue cuma mau kembali jadi gue yang dulu karena sebenernya, gue pun nggak nyaman jadi gue yang sekarang.

Pembenaran. Iya, gue yang sekarang lagi mencari pembenaran dari orang-orang kalo gue bahagia. Pathetic yet ambitious at the same time. Gue orang yang peka sama lingkungan and I know, some of my friends (definitely not the closest one) lagi kasian sama gue for some reason that cant be explained here. Dan iya mereka bener, gue emang harus dikasihanin, bukan karena 'sesuatu' yang mereka pikirkan, tapi karena gue mencari pengakuan dari mereka kalo gue bahagia.

Social media buat gue kayak etalase. Momen yang bakal kalian (and of course me also) pajang pasti cuma yang terbaik, atau yang membahagiakan buat kalian. Cari perhatian pembeli, wajar, namanya juga etalase. Tapi rasanya momen hidup gue kok terlalu berharga ya kalo sekedar gue pajang di etalase buat dipuja-puja orang atau sekedar dapet pengakuan dari orang kalo hidup gue menyenangkan?

Di samping itu, entah kenapa gue ngerasa Instagram ini jadi platform buat orang-orang bersaing secara nggak langsung. Entah pamer harta lah, pamer ketenaran, pamer punya pasangan, pamer achievement, pokoknya segala hal yang bisa dipamerin. Gue pernah baca salah satu artikel (Gue lupa nge-save link-nya hiks kesel. Nanti kalo ketemu gue bakal link di sini.) yang bilang kalo Instagram ini adalah socmed yang paling nggak 'menyehatkan'. Gue lupa apa yang artikel itu jelasin tentang nggak menyehatkan ini tapi yang jelas saat itu gue nggak terlalu ambil pusing lebih tepatnya nggak peduli kali ya. Seiring dengan kesadaran gue yang udah mulai pulih pasca turbulance kehidupan (cie gitu), gue pun sadar nggak 'menyehatkan' yang dimaksud artikel itu apa. Nggak usah jauh-jauh mikirin dampak buat orang yang tenar di Instagram deh, buat kita dan orang-orang terdekat aja dulu. Hayo ngaku pasti kalian pernah, at least nih at least ya, sekali aja gossip-in salah satu temen kalian cuma gara-gara liat postingannya di Instagram? Ya gue sih nggak muna ya, karena gue pernah. Atau mungkin malah kita yang dijadiin bahan gossip sama temen-temen. Who knows?

Jadi, gue mau melipir sebentar dari hiruk pikuk Instagram yang amat sangat ramai. Gue mau balik jadi gue yang dulu. Yang kebahagiaannya nggak cuma terukur dari berapa banyak posting-an yang gue buat. Yang kalo lagi seneng yang dipikirin bukan update story atau foto tapi berbagi langsung ke orang yang pantas merasakan senengnya gue, bukan ke semua orang yang bahkan mungkin bisa jadiin gue sebagai bahan gossip. Bahagia itu temennya sedih. Sama halnya kayak sedih yang nggak mau gue umbar, bahagia pun nggak mau diumbar kalo lagi dirasain.

'Nggak aktif di Instagram tapi aktif di blog. Meh sama aja keleus.'

Iya sih sama aja buat kalian, tapi nggak buat gue. Gue suka nulis, suka mikir dan gue mau nuangin isi kepala gue yang kadang suka mau meledak ini. Mungkin gue tetap terlihat sedang menata etalase biar keliatan indah dipandang. Tapi bedanya, etalase yang sekarang ini, gue isi dengan hal yang (mungkin) juga bermanfaat buat orang lain, bukan cuma suatu yang butuh diakui oleh orang lain. Ya kalo pun tulisan-tulisan di blog ini nirfaedah buat orang lain, at least, ini bakal jadi jurnal penting buat hari tua gue. Bukan sekedar jadi pengingat kalo gue pernah seserius ini cuma gara-gara hal remeh aja, tapi buat gue ketawain sama teman hidup gue nanti (eeee ujung-ujungnya teman hidup). Karena serius deh, baca posting lama di blog rasanya jauh lebih menyenangkan dibanding liat posting lama di Instagram. Lagipupa, probabilitas orang buat mampir ke blog gue ini kecil bangettt. Cuma ada tiga jenis orang yang bakal baca post ini; orang yang nyasar, temen yang care, dan lo yang kepo sama hidup gue yang bakal baca tulisan ini sambil dumel dalem hati 'Apaan dah ini orang sok asik banget. Ew.'.

Gue sama sekali nggak maksa kalian buat setuju sama apa yang gue rasain. Kalo lo kontra dan menganggap gue lebay, nggak masalah namanya juga hidup ya, nggak semua orang bersedia jadi supporter. Tapi kalo lo lagi ngerasain hal yang sama kayak gue, mari kita berpegangan tangan keliling dunia bersama.

Semoga tulisan ini bisa sedikit membantu kalian yang sedang berusaha mati-matian menata etalase tapi ternyata lelah karena nggak juga mendapat perhatian. Inget, bahagia itu berharga loh!

Saturday, June 17, 2017

[Memoar] Percaya Diri Sekali Kamu

Saya benci ketika kamu muncul kembali dalam ingatan saya. Kamu pikir, berkeliaran di ingatan seseorang tidak melanggar hukum?! Ya memang tidak sih. Tapi saya sungguh ingin kamu tahu tentang hal ini. Bahwa ternyata, sebanyak dan sebesar apapun kepingan ingatan buruk yang telah kamu buat untuk saya simpan, tidak ada satu pun yang mampu menggantikan memori baik tentang kamu. Tidak. Saya tidak sedang mengiba atau meminta kamu kembali. Percaya diri sekali kamu.

Memaafkan terdengar klise, pun berdamai dengan masa lalu. Banyak teman berkata, "Cari orang baru!". Saya ingin tertawa. Tidak semudah itu. Jika orang itu hanya akan membuat robek yang telah saya jahit kembali terbuka, untuk apa saya membiarkan dia membantu? Sungguh saya memaafkan kamu. Bahkan jika kamu tidak memintanya sekali pun. Jadi, bukan karena tidak mudah untuk menggusur kamu dari tempat yang dulu, tapi karena berdamai dengan masa lalu tanpa dibantu siapapun terdengar jauh lebih menyenangkan. Jangan terlalu percaya diri.

Dan lagi bagi saya, waktu adalah penyembuh segala. Hanya waktu yang akan menjawab tanya yang tidak pernah kamu jawab. Atau penawar bagi sakit yang tidak terobati. Atau penggerus perasaan yang masih utuh. Bukan orang baru, apalagi kamu. Percaya diri sekali kamu.

Sunday, May 21, 2017

[Memoar] Dasar

Biru dan sendu masih bersamaku
mengiringi tiap satuan memori yang pernah nyata.
Sudah,
tidak semudah itu.
Marah,
tidak bisa mengelak.
Air mata bukan lagi kawanku.
Kebencian,
bukan amarah semata.
Kamu mampu.
Aku harus.
Biru dan sendu masih bersamaku
mengiringi tiap lembar yang menanti wujud.
Mungkin dengan dia
yang siap membuat hitam semakin kelam.
Atau dia
yang akan menjadikan oranye kembali terbit.