Thursday, April 5, 2018

[Memoar] Am I Getting Older Already?

Dulu, tanggal 3 April selalu jadi tanggal yang spesial dan selalu gue tunggu tiap tahunnya. Kalo udah mendekati tanggal segitu, gue selalu cerewet ke orang-orang terdekat, "Eh bentar lagi 3 April loh, jangan lupa ya!". Dan orang-orang yang gue ingetin cuma ketawa terus bilang, "Ada ya orang ulang tahun malah bragging ke mana-mana.". Yes, I did.

Sampe 3 April tahun lalu pun gue masih sama excited-nya. Bahkan gue sengaja kejar-kejaran sama deadline biar bisa mengenang momen bertambahnya umur yang ke 22 tahun dibarengi sama bertambahnya gelar di belakang nama. I've been working so hard back then to fulfilled my wish, and thank God, I made it. Terus makin semangat ngasih pengumuman ke temen-temen deket, "3 April gue sidang sekalian ualng tahun loh!". I was that happy to celebrate my birthday.

Tapi, entah, gue ngerasa ada yang beda sama tahun ini. Bikin wishlist udah bukan masanya lagi buat gue. Yang gue lakuin lebih ke merenungkan apa aja yang udah gue capai selama 23 tahun. Bukan lagi mengharapkan orang-orang ngasih sesuatu yang spesial semacam kado dan kejutan, tapi lebih ke bahagia ada yang inget ulang tahun gue walaupun gue nggak pernah ingetin mereka. Lebih dari itu, doa sederhana yang mereka ucapin pas gue ulang tahun sekarang berasa 'ngena' banget di gue. Really, am I getting older already?

I feel like I'm becoming more thoughtful.

Lebih cemas sama jalur mana yang bisa bikin gue sampe tujuan lebih cepet. Kebahagiaan yang cuma sehari buat gue nggak sepenting kebahagiaan yang mungkin bakal gue dapatkan seumur hidup. Buat gue yang sekarang, birthday is just like another day. It hasnt to be good, but it may filled with sadness and fear too.

Bisa nggak ya gue sampe ke tujuan dalam kurun jatah waktu yang tersisa?

Dulu, mana pernah gue ngoyo mikirin goals yang udah gue bikin? As the time goes by, gue semakin percaya kalo sifat seseorang bakal berubah menyesuaikan umurnya. Dipengaruhi atau pun enggak sama lingkungan, pendewasaan diri pasti terjadi di semua orang. Banyak orang-orang di sekitar gue yang udah mulai nembus goals-nya satu-satu. Tapi nggak sedikit juga yang masih mau santai nikmatin hidup. Dan gue, sekarang ada di ambang; buat mulai meninggalkan kesenangan sesaat atau mulai menyusun titian untuk dijejaki.

Tuesday, March 20, 2018

[Random Thought] Prinsip

Beberapa waktu lalu, nggak sengaja gue lihat sebuah thread perdebatan netizen Twiter. Bukan, bukan isu politik atau hak asasi manusia. Isu yang sangat sederhana tapi cukup menggelitik buat gue; ucapan terima kasih. Perdebatan muncul ketika salah satu netizen bercerita tentang dia yang habis menolong, lebih jelasnya, menahan pintu sebuah kafe untuk orang lain, tapi orang itu sama sekali nggak bilang 'terima kasih'. Si netizen kesel dan intinya mengungkapkan kalo he doesn't like that kind of attitude. Gue baca tweet dia sambil ngangguk-ngangguk penuh semangat karena setuju. Banget.
Karena gue sepaham sama netizen itu, gue baca thread-nya and, surprise! Agak tertohok setelah baca argumen orang-orang yang kontra.
"Itu sih emang lo aja yang pamrih, nggak ikhlas, gitu doang berharap makasih!"
Well, kemudian gue mikir keras. Masa sih gue sepamrih itu?
'Tolong' dan 'terima kasih' menurut gue adalah dua dari tiga (yang ke tiga 'maaf' dan gue akan bahas ini di post yang berbeda) etika dasar ketika berinteraksi dengan siapa pun, termasuk stranger. Kata tolong jelas digunakan ketika gue akan meminta bantuan seseorang. Orang yang minta bantuan tanpa kata 'tolong' mutlak bakal gue cap sebagai orang yang nggak punya etika. Kemudian 'terima kasih' ini lanjutan dari 'tolong'. Orang yang nggak bilang 'terima kasih' setelah minta bantuan juga sama nggak beretikanya dengan orang yang nggak pernah minta bantuan pake kata 'tolong'.
Tapi, apa iya semua orang punya prinsip yang sama?
Mikir, mikir, mikir.
Dan akhirnya gue nemu satu titik terang bagi keresahan atas sifat pamrih yang mungkin gue miliki. 'Tolong' dan 'terima kasih' adalah dua termin yang berkaitan. Kalo gue niat nolong orang tanpa diminta, emang seharusnya gue nggak berharap ucapan terima kasih.
"Gue nggak minta tolong, berarti ucapan terima kasih nggak wajib buat diucapkan."
Mungkin itu yang dipikirin sama 'tersangka' dalam tweet itu.
Nggak salah, sama sekali. Tapi prinsip gue berseberangan sama itu. Buat gue, ucapan terima kasih itu bentuk balas budi atas kebaikan yang udah orang lain kasih ke gue, walaupun itu sesuatu yang nggak pernah gue minta. Kalo emang orang lain nggak punya prinsip yang sama, gue nggak akan maksain dia buat ngelakuin hal yang sama juga. Jadi menurut gue, nggak ada yang salah. Si tersangka nggak salah karena bener dia nggak minta tolong. Netizen pun nggak salah karena  hello, siapa sih yang nggak kesel udah bantu orang tapi orangnya nggak tau terima kasih? Mereka cuma beda prinsip aja.
Pada akhirnya, perdebatan netizen yang sangat kasual itu menuntun gue pada satu refleksi diri yang harus gue perbaiki; ikhlas.
Setelah introspeksi dadakan itu, tiap kali habis ngelakuin kebaikan, gue nyaris nggak pernah berharap imbalan bahkan sekedar ucapan terima kasih. Pun gue nggak pernah misuh-misuh karena orang lain lupa ngucapin terima kasih ke gue. Serius, ternyata menghargai prinsip orang jauh lebih penting dari sekedar ucapan terima kasih.

Sunday, January 28, 2018

[Memoar] Rindu

Membunuh rindu adalah hal terakhir yang akan aku lakukan jika itu tentang kamu. Memikul rindu memang sama berat dengan membunuhnya. Bersamamu dalam pikiran, tetap berbagi hari yang berat walau sunyi yang ku dapat, bagiku sudah cukup.

Wangi tubuhmu masih melekat jelas pada baju hangat biru yang kamu titipkan pekan lalu, membuatku semakin pilu menahan rindu. Siapa yang bilang aku ingin berhenti merasakan rindu? Berhenti merindukanmu artinya berhenti menjadikanmu teman berbagi setiap rasa.

Jika bisa menjadi sesuatu yang kamu sebut sebagai pulang, aku siap bersahabat dengan rindu selamanya.

Sunday, January 21, 2018

[Memoar] Gelap

Mengucap, "Sampai jumpa," akan selalu sama beratnya. Saat ini, atau pun besok nanti.

Aku dan kamu memilih tetap percaya bahwa mimpi akan tetap satu.

Mungkin sebagai penguat, mungkin sebagai perenggang.

Pintu terlanjur dibuka, langkah terlanjur dipijak.

Mundur terdengar lebih menyesakkan.

Kini, dalam gelap kita meraba cahaya.

Tidak bisa bertemu pandang, berharap kehadiran kian nyata.

Tetap bersamaku, Bim.

Sampai ujung warna terang terjangkau indera.

Monday, January 1, 2018

[Memoar] Page 1.

Setelah diketawain abis-abisan sama 2016, gue mencoba memulai 2017 dengan menjadi Gita yang memiliki positive mind. Mencoba berbaik sangka pada segala hal, nggak cepat mengambil kesimpulan, dan yang paling penting nggak usah terlalu ngikutin apa kata hati.
2017 buat gue adalah tahun yang paling campur aduk selama gue hidup. Like, semua hal yang belum pernah gue rasain, udah gue rasain di tahun ini. Kecewa, sedih, senang. Semua gue rasain cuma dalam kurun waktu 12 bulan.

Januari 2017, gue coba untuk mencari apa aja sisi positif dibalik hal buruk yang menimpa gue. Banyak. Salah satunya, teman. Gue disadarkan bahwa teman-teman gue beneran sebaik itu, sesayang itu sama gue. I'm happy yet sad. Siapa yang nggak seneng punya temen yang super suportif, dan literally selalu ada pas lo butuh? Sedihnya, gue baru sadar saat itu. Saat orang yang gue kira bisa menggantikan peran temen buat gue, pergi. Well thank God I've learned and still got chance to gave them something they never got from me: time and attention.

Februari 2017, the most bad things of the year happened on February. Gue (merasa) dikhianati oleh orang yang sama, yang bikin 2016 gue pahit. All I can remember is just the feeling, so much pain.
Maret 2017, Gita si ambisius kembali mengudara. Gue harus bisa kembali menata hidup gue setelah porak poranda sama hal yang super nggak penting, super toxic, super merugikan. Ini bulannya gue struggle sama skripsi dan dikejar deadline.

April 2017, finally graduated! Setelah pontang panting kejar-kejaran sama deadline gue akhirnya berhasil nambah gelar di belakang nama gue. At this stage, for the first time in my life, i feel so proud of myself. Sebenernya ini pencapain yang biasa aja sih, tapi kalo inget prosesnya, gue bangga banget bisa lawan segala suasana hati yang sebenernya nggak mendukung sama sekali saat itu. And of course, I feel so blessed to be surrounded and fully supported by people that always love me unconditionally.

Mei 2017, nggak ada hal lain yang spesial selain wisuda sih. Tapi senang sekali bisa bikin orangtua bangga liat gue bisa lulus kurang dari 4 tahun. Such an amazing feeling I have!
Juni 2017, bulan di mana gue memutuskan buat nggak langsung nyari kerja. Mau santai-santai dulu. Ini bulan tergabut selama tahun lalu dan bikin gue jadi kembali teringat masa lalu sih. Kembali merasakan sedih dan sakit hati. Kembali menyalahkan diri sendiri dan keadaan. Sebelum akhirnya disadarkan kalo udah saatnya gue meninggalkan masa lalu. Harus memaafkan diri sendiri, juga yang menyakiti.

Juli 2017, proses healing yang seutuhnya. Getaway from crowded city to a peaceful place, Jember. Hampir sebulan gue di Jember dan rasanya bener-bener seperti habis refresh segalanya!

Agustus 2017, surprise! Seseorang yang (nggak terlalu) baru tiba-tiba hadir dan jadi bagian penting dalam hidup gue. Kembali melengkapi sudut yang kosong, yang gue kira bakal susah buat nemuin that missing piece. Orang yang banyak banget ngajarin gue hal baru, secara langsung atau engga. Orang yang bikin gue sadar kalo melepaskan sesuatu itu nggak selamanya sedih. Melepaskan sesuatu itu untuk menerima kembali sesuatu yang lebih besar, jauh lebih baik.

September 2017, still can't believe that a nearly-stranger turn into my everyday company, in a very short time. Keajaiban yang bahkan sampai detik ini masih suka gue pertanyakan keberadaannya, is he real? Nope he's not that perfect but his unperfection somehow makes me feel so complete. (Ew, so cheesy. I know you would, at least, stretch your lips, Bim.)

Oktober 2017, adaptating. Someone new means new habbit. Dulu gue naif banget, percaya kalo ada orang yang bisa sayang sama orang lain apa adanya. Tapi setelah dikecewakan, gue memilih buat membuang jauh-jauh pernyataan yang super corny itu. Selama itu hal baik, gue bakal kompromi sama diri gue untuk berubah demi seseorang. Karena toh hal baik itu nggak hanya menguntungkan buat orang lain, tapi buat gue juga. New me starts here. Gue jadi (lumayan) rajin olahraga, (lumayan) rajin bersih-bersih, and the most surprising things, I've become an early bird! Berat? Nggak usah ditanya. Saat itu sih gondok setengah mati ya. Tapi kalo sekarang ditanya menyesal apa nggak udah berusaha sekeras itu cuma buat berubah jadi lebih baik, ya enggak sama sekali. Every effort was worth! (Thanks to you, Bim!)

November 2017, bulan terbanyak pikirian sepanjang masa. Baru ngerasain kalo ternyata nyari kerja beneran sesusah itu. Idealisme sama kenyataan susah digabungkan. Mulai merasa agak goyah sama prinsip yang udah dipegang sejak lama. But, again, lucky me to have such a very supportive family, lover and friends.

Desember 2017, got my first full-time job finally! Bulan yang paling melelahkan, banyak kebiasaan yang harus diubah dengan cepat. Makin banyak pelajaran yang bisa gue serap secara cuma-cuma. Nggak terlalu banyak hal yang bisa diceritain dari Desember. Karena waktu gue, mostly, dihabiskan buat adaptasi di lingkungan yang baru.

2018 mungkin bakal jadi tahun yang berat buat gue. Ya. Welcome that old shitty things called LDR, tanggung jawab yang mungkin bakal lebih berat dari sebelumnya, dan mungkin hal-hal buruk lain yang harus ada dalam proses pendewasaan diri.

Halaman pertama dari sebuah buku biasanya kosong. Hanya ada sebaris judul yang sedikit banyak akan merepresentasikan isi dari buku itu sendiri. Tapi, nggak ada salahnya kan, setelah ada di halaman pertama dari buku yg baru, gue baca ulang buku sebelumnya? Ya sebagai pengingat andai gue kurang bersyukur nantinya, kalo gue pernah ada di masa-masa yang nggak menyenangkan dan menyedihkan.

Bahwa Tuhan memberikan kebahagiaan setelah kesedihan di kurun waktu yang nggak pernah gue sangka.

Bahwa pelangi setelah hujan memang nyata adanya.

Berubah menjadi orang yang baru emang nggak harus di tahun baru aja, tapi kalo menurut kalian tahun baru adalah waktu yang tepat untuk menjadi lebih baik, just go ahead!

Sunday, October 15, 2017

[Random Thought] Siklus

Banyak banget pertanyaan yang sering terlintas di pikiran gue ketika masalah hidup lagi nggak berat-berat banget. Mulai dari pertanyaan absurd sejenis, "Kira-kira parallel universe itu beneran ada atau nggak sih?" sampe pertanyaan yang nggak bakal ada jawaban macem, "Kenapa dulu gue males banget belajar ya?". Yaa, pertanyaan-pertanyaan kayak gitu deh, yang pilihannya cuma 2, antara misteri ilahi atau emang sekedar retorika aja. Tapi, semakin banyak waktu yang gue punya buat mikirin hal lain selain hidup gue sendiri, semakin berfaedah juga ternyata hal-hal yang gue pikirin.

"Buat siapa sih kita berbuat baik?"

Pertanyaan itu yang lagi menganggu gue akhir-akhir ini. 

"Buat diri sendiri lah. Kita berharap orang lain melakukan hal yang sama untuk kita."

Seminggu lalu gue naik commuter line sekitar jam 3 sore dari arah Jakarta ke Bekasi. Which is jam segitu gerbong kereta belum penuh sama pekerja komuter, tapi penuh sama ibu-ibu yang entah habis ngurus sesuatu atau sekedar belanja di Tanah Abang. Kebetulan sekali, gue dapet tempat duduk waktu itu. Sampe akhirnya masuk seorang nenek dari stasiun Gondangdia. Karena gue liat tempat duduk udah penuh, gue melakukan hal yang sewajarnya dilakukan orang lain kalo ada di situasi dan kondisi yang sama; mempersilahkan nenek itu untuk duduk. Such a priceless moment ketika si nenek senyum ramah sekali sambil berterima kasih. Bahkan kayaknya, itu ucapan terima kasih paling tulus yang pernah orang lain ucapkan ketika gue melakukan hal sejenis. Lalu pertanyaan tadi menggema lagi di pikiran gue, "Buat siapa sih kita berbuat baik? Emang gue beneran pamrih ya?"

Padahal, berbuat baik kan harus ikhlas, nggak boleh mengharapkan imbalan.

"Nggak pamrih kok, gue cuma seneng aja bantu orang. Apalagi kalo liat orang itu seneng."

Sebenernya ucapan itu nggak bullshit sama sekali karena gue beneran seneng liat orang yang gue bantu dengan sebuah bantuan sederhana bisa sesenang itu. Tapi berarti, gue nolong nenek itu karena gue merasa senang kan? Ujung-ujungnya gue berbuat baik buat menyenangkan diri sendiri.

Eh ada pertanyaan lanjutan.

"Kalo gitu manusia yang beribadah juga pamrih dong? Mereka kan berharap diberi surga oleh Tuhan?"

Gue selalu mikir, kalo seandainya Tuhan nggak ngejanjiin surga buat umat-Nya yang taat, kira-kira masih ada nggak ya manusia yang mau ibadah? Berarti bener dong kalo manusia itu berbuat baik karena mengharapkan timbal balik, at least dapet kebaikan yang sama atas apa yang udah dia lakukan dari orang lain? Semakin lama dipikirin otak gue rasanya mau meledak, langsung merasa jadi manusia paling berdosa karena udah mikir hal yang nggak seharusnya dipikirin. 

Sebentar.

Emangnya gue selalu berharap diberi kebaikan oleh Tuhan ketika gue berdoa ya?

Nope.

Mungkin iya beberapa kali tapi nggak selalu. Berdoa bukan cuma perihal meminta, tapi juga tentang bagaimana menyampaikan terima kasih kepada Tuhan. Ya, terima kasih karena masih dikasih kesempatan untuk bernafas dengan tenang atau karena sekedar diberi rasa bahagia.

Begitu juga dengan kebaikan yang gue kasih ke orang lain. Bukan pamrih karena mau diperlakukan sama dengan yang udah gue korbankan di masa yang akan datang, tapi sebagai bentuk terima kasih karena gue mungkin pernah diberikan kebaikan yang berbeda tapi sama besarnya. Mungkin nenek yang gue persilahkan duduk di commuter line minggu kemarin habis melakukan suatu hal yang baik sehingga hak beliau lah untuk diberikan kebaikan yang sama. Atau ketika seorang teman mau membantu gue, mungkin karena dia pernah diberikan hal yang serupa dari orang lain sehingga merasa harus menebar kebaikan juga.

Pada akhirnya, hidup ini seperti siklus yang harus kita teruskan untuk membuat kebaikan yang ada terus berputar, bukan?

Friday, October 6, 2017

[Memoar] Sabit

Peradaban manusia butuh menunggu selama 1876 tahun sampai dunia bisa terhubung oleh alat bernama telepon.
Rowling juga harus ditolak 12 penerbit untuk kemudian bisa menjadi penulis dengan karya yang dilabeli 'Best Seller'.
Oh, dan jangan lupakan Juliet yang harus mengakhiri hidupnya dengan pisau untuk bisa bersama pujaan hatinya, Romeo.
Beberapa hal terlihat rumit untuk bisa bertemu terangnya.
Padahal, fajar hanya membutuhkan satu detik setelah sinar matahari pertama jatuh untuk bisa disebut pagi.
Seperti aku yang hanya membutuhkan kamu untuk bisa kembali melengkungkan sabit di bawah hidungku.