Sunday, January 28, 2018

[Memoar] Rindu

Membunuh rindu adalah hal terakhir yang akan aku lakukan jika itu tentang kamu. Memikul rindu memang sama berat dengan membunuhnya. Bersamamu dalam pikiran, tetap berbagi hari yang berat walau sunyi yang ku dapat, bagiku sudah cukup.

Wangi tubuhmu masih melekat jelas pada baju hangat biru yang kamu titipkan pekan lalu, membuatku semakin pilu menahan rindu. Siapa yang bilang aku ingin berhenti merasakan rindu? Berhenti merindukanmu artinya berhenti menjadikanmu teman berbagi setiap rasa.

Jika bisa menjadi sesuatu yang kamu sebut sebagai pulang, aku siap bersahabat dengan rindu selamanya.

Sunday, January 21, 2018

[Memoar] Gelap

Mengucap, "Sampai jumpa," akan selalu sama beratnya. Saat ini, atau pun besok nanti.

Aku dan kamu memilih tetap percaya bahwa mimpi akan tetap satu.

Mungkin sebagai penguat, mungkin sebagai perenggang.

Pintu terlanjur dibuka, langkah terlanjur dipijak.

Mundur terdengar lebih menyesakkan.

Kini, dalam gelap kita meraba cahaya.

Tidak bisa bertemu pandang, berharap kehadiran kian nyata.

Tetap bersamaku, Bim.

Sampai ujung warna terang terjangkau indera.

Monday, January 1, 2018

[Memoar] Page 1.

Setelah diketawain abis-abisan sama 2016, gue mencoba memulai 2017 dengan menjadi Gita yang memiliki positive mind. Mencoba berbaik sangka pada segala hal, nggak cepat mengambil kesimpulan, dan yang paling penting nggak usah terlalu ngikutin apa kata hati.

2017 buat gue adalah tahun yang paling campur aduk selama gue hidup. Like, semua hal yang belum pernah gue rasain, udah gue rasain di tahun ini. Kecewa, sedih, senang. Semua gue rasain cuma dalam kurun waktu 12 bulan.

Januari 2017, gue coba untuk mencari apa aja sisi positif dibalik hal buruk yang menimpa gue. Banyak. Salah satunya, teman. Gue disadarkan bahwa teman-teman gue beneran sebaik itu, sesayang itu sama gue. I'm happy yet sad. Siapa yang nggak seneng punya temen yang super suportif, dan literally selalu ada pas lo butuh? Sedihnya, gue baru sadar saat itu. Saat orang yang gue kira bisa menggantikan peran temen buat gue, pergi. Well thank God I've learned and still got chance to gave them something they never got from me: time and attention.

Februari 2017, the most bad things of the year happened on February. Gue (merasa) dikhianati oleh orang yang sama, yang bikin 2016 gue pahit. All I can remember is just the feeling, so much pain.

Maret 2017, Gita si ambisius kembali mengudara. Gue harus bisa kembali menata hidup gue setelah porak poranda sama hal yang super nggak penting, super toxic, super merugikan. Ini bulannya gue struggle sama skripsi dan dikejar deadline.

April 2017, finally graduated! Setelah pontang panting kejar-kejaran sama deadline gue akhirnya berhasil nambah gelar di belakang nama gue. At this stage, for the first time in my life, i feel so proud of myself. Sebenernya ini pencapain yang biasa aja sih, tapi kalo inget prosesnya, gue bangga banget bisa lawan segala suasana hati yang sebenernya nggak mendukung sama sekali saat itu. And of course, I feel so blessed to be surrounded and fully supported by people that always love me unconditionally.

Mei 2017, nggak ada hal lain yang spesial selain wisuda sih. Tapi senang sekali bisa bikin orangtua bangga liat gue bisa lulus kurang dari 4 tahun. Such an amazing feeling I have!

Juni 2017, bulan di mana gue memutuskan buat nggak langsung nyari kerja. Mau santai-santai dulu. Ini bulan tergabut selama tahun lalu dan bikin gue jadi kembali teringat masa lalu sih. Kembali merasakan sedih dan sakit hati. Kembali menyalahkan diri sendiri dan keadaan. Sebelum akhirnya disadarkan kalo udah saatnya gue meninggalkan masa lalu. Harus memaafkan diri sendiri, juga yang menyakiti.

Juli 2017, proses healing yang seutuhnya. Getaway from crowded city to a peaceful place, Jember. Hampir sebulan gue di Jember dan rasanya bener-bener seperti habis refresh segalanya!

Agustus 2017, surprise! Seseorang yang (nggak terlalu) baru tiba-tiba hadir dan jadi bagian penting dalam hidup gue. Kembali melengkapi sudut yang kosong, yang gue kira bakal susah buat nemuin that missing piece. Orang yang banyak banget ngajarin gue hal baru, secara langsung atau engga. Orang yang bikin gue sadar kalo melepaskan sesuatu itu nggak selamanya sedih. Melepaskan sesuatu itu untuk menerima kembali sesuatu yang lebih besar, jauh lebih baik.

September 2017, still can't believe that a nearly-stranger turn into my everyday company, in a very short time. Keajaiban yang bahkan sampai detik ini masih suka gue pertanyakan keberadaannya, is he real? Nope he's not that perfect but his unperfection somehow makes me feel so complete. (Ew, so cheesy. I know you would, at least, stretch your lips, Bim.)

Oktober 2017, adaptating. Someone new means new habbit. Dulu gue naif banget, percaya kalo ada orang yang bisa sayang sama orang lain apa adanya. Tapi setelah dikecewakan, gue memilih buat membuang jauh-jauh pernyataan yang super corny itu. Selama itu hal baik, gue bakal kompromi sama diri gue untuk berubah demi seseorang. Karena toh hal baik itu nggak hanya menguntungkan buat orang lain, tapi buat gue juga. New me starts here. Gue jadi (lumayan) rajin olahraga, (lumayan) rajin bersih-bersih, and the most surprising things, I've become an early bird! Berat? Nggak usah ditanya. Saat itu sih gondok setengah mati ya. Tapi kalo sekarang ditanya menyesal apa nggak udah berusaha sekeras itu cuma buat berubah jadi lebih baik, ya enggak sama sekali. Every effort was worth! (Thanks to you, Bim!)

November 2017, bulan terbanyak pikirian sepanjang masa. Baru ngerasain kalo ternyata nyari kerja beneran sesusah itu. Idealisme sama kenyataan susah digabungkan. Mulai merasa agak goyah sama prinsip yang udah dipegang sejak lama. But, again, lucky me to have such a very supportive family, lover and friends.

Desember 2017, got my first full-time job finally! Bulan yang paling melelahkan, banyak kebiasaan yang harus diubah dengan cepat. Makin banyak pelajaran yang bisa gue serap secara cuma-cuma. Nggak terlalu banyak hal yang bisa diceritain dari Desember. Karena waktu gue, mostly, dihabiskan buat adaptasi di lingkungan yang baru.

2018 mungkin bakal jadi tahun yang berat buat gue. Ya. Welcome that old shitty things called LDR, tanggung jawab yang mungkin bakal lebih berat dari sebelumnya, dan mungkin hal-hal buruk lain yang harus ada dalam proses pendewasaan diri.

Halaman pertama dari sebuah buku biasanya kosong. Hanya ada sebaris judul yang sedikit banyak akan merepresentasikan isi dari buku itu sendiri. Tapi, nggak ada salahnya kan, setelah ada di halaman pertama dari buku yg baru, gue baca ulang buku sebelumnya? Ya sebagai pengingat andai gue kurang bersyukur nantinya, kalo gue pernah ada di masa-masa yang nggak menyenangkan dan menyedihkan.

Bahwa Tuhan memberikan kebahagiaan setelah kesedihan di kurun waktu yang nggak pernah gue sangka.

Bahwa pelangi setelah hujan memang nyata adanya.

Berubah menjadi orang yang baru emang nggak harus di tahun baru aja, tapi kalo menurut kalian tahun baru adalah waktu yang tepat untuk menjadi lebih baik, just go ahead!

Sunday, October 15, 2017

[Random Thought] Siklus

Banyak banget pertanyaan yang sering terlintas di pikiran gue ketika masalah hidup lagi nggak berat-berat banget. Mulai dari pertanyaan absurd sejenis, "Kira-kira parallel universe itu beneran ada atau nggak sih?" sampe pertanyaan yang nggak bakal ada jawaban macem, "Kenapa dulu gue males banget belajar ya?". Yaa, pertanyaan-pertanyaan kayak gitu deh, yang pilihannya cuma 2, antara misteri ilahi atau emang sekedar retorika aja. Tapi, semakin banyak waktu yang gue punya buat mikirin hal lain selain hidup gue sendiri, semakin berfaedah juga ternyata hal-hal yang gue pikirin.

"Buat siapa sih kita berbuat baik?"

Pertanyaan itu yang lagi menganggu gue akhir-akhir ini. 

"Buat diri sendiri lah. Kita berharap orang lain melakukan hal yang sama untuk kita."

Seminggu lalu gue naik commuter line sekitar jam 3 sore dari arah Jakarta ke Bekasi. Which is jam segitu gerbong kereta belum penuh sama pekerja komuter, tapi penuh sama ibu-ibu yang entah habis ngurus sesuatu atau sekedar belanja di Tanah Abang. Kebetulan sekali, gue dapet tempat duduk waktu itu. Sampe akhirnya masuk seorang nenek dari stasiun Gondangdia. Karena gue liat tempat duduk udah penuh, gue melakukan hal yang sewajarnya dilakukan orang lain kalo ada di situasi dan kondisi yang sama; mempersilahkan nenek itu untuk duduk. Such a priceless moment ketika si nenek senyum ramah sekali sambil berterima kasih. Bahkan kayaknya, itu ucapan terima kasih paling tulus yang pernah orang lain ucapkan ketika gue melakukan hal sejenis. Lalu pertanyaan tadi menggema lagi di pikiran gue, "Buat siapa sih kita berbuat baik? Emang gue beneran pamrih ya?"

Padahal, berbuat baik kan harus ikhlas, nggak boleh mengharapkan imbalan.

"Nggak pamrih kok, gue cuma seneng aja bantu orang. Apalagi kalo liat orang itu seneng."

Sebenernya ucapan itu nggak bullshit sama sekali karena gue beneran seneng liat orang yang gue bantu dengan sebuah bantuan sederhana bisa sesenang itu. Tapi berarti, gue nolong nenek itu karena gue merasa senang kan? Ujung-ujungnya gue berbuat baik buat menyenangkan diri sendiri.

Eh ada pertanyaan lanjutan.

"Kalo gitu manusia yang beribadah juga pamrih dong? Mereka kan berharap diberi surga oleh Tuhan?"

Gue selalu mikir, kalo seandainya Tuhan nggak ngejanjiin surga buat umat-Nya yang taat, kira-kira masih ada nggak ya manusia yang mau ibadah? Berarti bener dong kalo manusia itu berbuat baik karena mengharapkan timbal balik, at least dapet kebaikan yang sama atas apa yang udah dia lakukan dari orang lain? Semakin lama dipikirin otak gue rasanya mau meledak, langsung merasa jadi manusia paling berdosa karena udah mikir hal yang nggak seharusnya dipikirin. 

Sebentar.

Emangnya gue selalu berharap diberi kebaikan oleh Tuhan ketika gue berdoa ya?

Nope.

Mungkin iya beberapa kali tapi nggak selalu. Berdoa bukan cuma perihal meminta, tapi juga tentang bagaimana menyampaikan terima kasih kepada Tuhan. Ya, terima kasih karena masih dikasih kesempatan untuk bernafas dengan tenang atau karena sekedar diberi rasa bahagia.

Begitu juga dengan kebaikan yang gue kasih ke orang lain. Bukan pamrih karena mau diperlakukan sama dengan yang udah gue korbankan di masa yang akan datang, tapi sebagai bentuk terima kasih karena gue mungkin pernah diberikan kebaikan yang berbeda tapi sama besarnya. Mungkin nenek yang gue persilahkan duduk di commuter line minggu kemarin habis melakukan suatu hal yang baik sehingga hak beliau lah untuk diberikan kebaikan yang sama. Atau ketika seorang teman mau membantu gue, mungkin karena dia pernah diberikan hal yang serupa dari orang lain sehingga merasa harus menebar kebaikan juga.

Pada akhirnya, hidup ini seperti siklus yang harus kita teruskan untuk membuat kebaikan yang ada terus berputar, bukan?

Friday, October 6, 2017

[Memoar] Sabit

Peradaban manusia butuh menunggu selama 1876 tahun sampai dunia bisa terhubung oleh alat bernama telepon.
Rowling juga harus ditolak 12 penerbit untuk kemudian bisa menjadi penulis dengan karya yang dilabeli 'Best Seller'.
Oh, dan jangan lupakan Juliet yang harus mengakhiri hidupnya dengan pisau untuk bisa bersama pujaan hatinya, Romeo.
Beberapa hal terlihat rumit untuk bisa bertemu terangnya.
Padahal, fajar hanya membutuhkan satu detik setelah sinar matahari pertama jatuh untuk bisa disebut pagi.
Seperti aku yang hanya membutuhkan kamu untuk bisa kembali melengkungkan sabit di bawah hidungku.

Friday, September 29, 2017

[Random Thought] Tepat Waktu

"Kenapa sih lo selalu ngaret?!"
"Ya lo datengnya kecepetan sih jadi kesannya gue lama!"
"Mendingan dateng lebih awal kan daripada telat?"

Waktu. Sesuatu yang sangat dihargai oleh sebagian orang sedang sebagian lainnya nggak menganggap itu penting sama sekali. Selalu terlambat ketika janjian mutlak sebuah kesalahan, tapi datang jauh lebih awal pun buat gue sama salahnya. Kubu anti jam karet selalu merasa dirinya benar, termasuk kebiasaannya datang jauh lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan. 

Ketika lo membuat janji di waktu tertentu, jangan lupakan kemungkinan bahwa lo dan teman janjian lo memiliki kegiatan di waktu sebelumnya. Lo mungkin bisa datang lebih awal karena kebetulan jadwal lagi lengang. Coba bayangin rasanya jadi temen lo yang lagi sibuk ngurus suatu hal tiba-tiba dapet chat dari lo yang kurang lebih isinya, "Gue udah di X ya." padahal pas doi cek jam, masih kurang 45 menit dari waktu janjian kalian. Kalo kalian temen deket sih paling dibales, "Yaelah cepet banget. Jam 1 masih lama kali!". Tapi kalo dia bukan temen deket lo dan dia adalah tipe yang sangat menghargai waktu, pasti dia bakal bales, "Aduh sorry banget ya gue masih di Y, 30 menit lagi paling lama gue sampe deh. Sorry ya.". Lo membuat seseorang harus minta maaf atas kesalahan yang sebenernya bukan punya dia.

"Loh kan gue cuma ngasih tau doang. Gue juga nggak berharap dia minta maaf kok!"

Let me tell you one short story.

Kebetulan, dosen pembimbing skripsi gue juga menjabat sebagai kepala prodi gue, which is banyak sekali yang harus beliau urus di luar mahasiswa bimbingan dan mahasiswa di matkul yang beliau ajar. Kebayang dong ya sibuknya kayak apa. Setiap kali bimbingan, gue harus email atau chat beliau buat nentuin jam pasti bimbingannya. Gue selalu datang tepat waktu, nggak pernah ngaret. Pernah satu kali gue kebetulan udah di kampus dari pagi dan semua urusan gue hari itu udah selesai kecuali bimbingan. Gue liat jam dan mikir, "Masih setengah jam dari waktu janjian, Nggak apa deh ke ruang kaprodi aja. Toh lampu di ruangannya udah nyala beliau pasti udah di sana.". Setelah gue sampai di sana, dosen pembimbing gue beneran udah di sana dan gue, dengan senangnya, ngetuk pintu ruangannya karena gue tau beliau lagi nggak ada tamu. Kemudian beliau ngeliat gue dengan ekspresi agak kaget sambil lihat jam lalu ngomong, "Loh, Git, janjiannya masih setengah jam lagi kan? Saya masih ngurusin berkas ini nih. Masuk dulu aja, sorry ya saya selesaiin ini dulu sebentar."

Yang gue rasain? Perasaan nggak enak luar biasa karena udah ganggu waktu beliau, udah bikin beliau minta maaf padahal salah gue datengnya kecepetan, dan rasa nggak enak karena beliau jadi terburu-buru nyeselesaiin kerjaannya. Menurut lo gue mau bikin beliau minta maaf? Nggak, gue cuma mau nunjukkin kalo gue nggak suka ngaret.

Nggak apa-apa banget kalo lo mau dateng lebih awal, tapi nggak usah bikin panik temen janjian lo dengan ngirim pesan kalo lo udah di tempat janjian sebelum waktunya. Nggak semua orang di dunia ini suka ngaret, dan nggak cuma lo di dunia ini yang menghargai waktu. Ketika lo sangat menghargai waktu yang lo punya dan kesal ketika ada orang yang datang terlambat, coba juga untuk hargai waktu yang orang lain miliki dengan tidak menganggu sebelum waktunya.

"Coba aja kita ketemu lebih awal ya, Git."
"Loh, kalo kamu dateng lebih awal aku belum tentu bisa sama kamu sekarang. Ini udah waktu yang paling tepat kok."

Tepat waktu. Bukan sebelumnya atau datang terlambat.

Friday, August 18, 2017

[How to Deal with Life 101] Your Goals Matter

Tujuan bukan sesuatu yang umum dimiliki setiap orang. Sebagian mungkin sudah menata hidupnya sedemikian rupa, menentukan tujuannya, dan segala upaya untuk bisa sampai kesana. Tapi sebagian lagi, bahkan nggak menganggap tujuan sebagai sesuatu yang penting. Let it flow, they said. 

Gue suka banget mengamati perilaku orang buat kemudian ditelaah sifatnya. Rasanya seru aja, semacam nonton film dengan karakter yang super banyak. Temen-temen terdekat gue misalnya, sering banget gue jadiin sasaran ke-sotoy-an gue untuk mendalami ragam sifat orang. Kadang, mereka malah minta gue menjabarkan sifat buruk mereka, buat dijadiin bahan introspeksi. Nah, ini yang susah. Semakin sering gue jabarin sifat seseorang, gue ketemu di satu titik kesimpulan; nggak ada sifat yang benar-benar baik atau benar-benar buruk. But, of course, there are several characters that bother me.

Salah satu sifat yang paling menarik buat gue, nggak lain ya, iri hati. Sounds childish, isnt it? Gue pun berpikir demikian. Mungkin gue emang terlalu naif karena beranggapan sifat iri hati ya cuma dimiliki sama anak kecil. Kakak yang iri sama adiknya karena lebih disayang orang tua, atau anak SD yang sirik liat temennya punya tempat pensil baru. Sesederhana itu. Tapi nyatanya, sifat ini pun masih sering banget gue temui ada pada orang sepantaran gue. Nggak kayak sifat lainnya yang sama-sama dilabeli dengan 'sifat buruk', iri hati ini menurut gue nggak berdampak buruk ke orang sekitar kecuali ke diri orang yang bersangkutan. Apa sih yang sebenernya dicari dari orang-orang dengan sifat ini?

Mereka butuh motivasi.

Terkadang, liat apa yang orang lain udah berhasil raih, membuat sebagian orang terpacu buat meraih hal yang sama, entah itu hal baik atau pun buruk. Bagus kalau dua individu itu punya tujuan yang serupa, mereka bisa jadi sparing partner yang baik, mungkin. Tapi, masalah bakal jauh lebih rumit ketika tujuan hidup yang satu, berbeda dari yang lain. Iya, si iri hati pasti bakal selalu bandingin apa yang telah dia raih dengan apa yang telah orang lain raih. Kemudian, bakal muncul perasaan insecrue yang bikin dia parno, takut dikalahin sama orang yang dia anggap lawan.

'Wah bagus dong kalau emang bisa memotivasi buat jadi lebih baik lagi?'

Ya bagus, tapi nggak akan ada rasa puas yang mau mampir. Serakah. Padahal, hidup ini bukan tentang menang atau kalah, tapi tentang pencapaian tujuan. Banyak orang yang tujuan hidupnya jadi orang kaya, tapi jelas, mereka punya indikator yang berbeda-beda buat dikategorikan sebagai orang kaya. Atau punya tujuan hidup buat membahagiakan keluarganya. Bahagia yang seperti apa? Memberikan barang mewah kah atau sekedar meluangkan waktu? Your goals matter. Menurut gue, punya tujuan adalah salah satu cara buat ngilangin rasa iri hati. Ketika kalian merancang tujuan beserta titian tangga buat mencapainya, di sana kalian udah satu langkah lebih maju daripada sifat iri yang ada di hati.

Lagi-lagi gue terdengar naif.

'Yaelah tujuan doang mana bisa bikin sifat iri hati hilang?'

Jelas bisa. Iri hati ini sebenernya turunan dari sifat labil. Punya tujuan sendiri bisa bikin kita jadi nggak terdistraksi sama apa yang orang lain kerjakan atau capai. Dan lagi, gue rasa nggak sepantasnya kita membandingkan diri kita sama orang lain kalau cuma sekedar mencari motivasi. Apa yang udah dilalui gue dan kalian jelas beda, begitu juga dengan kalian dan mereka. Nggak adil rasanya kalau harus bandingin diri sendiri sama orang lain yang bisa aja pernah merasakan penderitaan yang belum pernah kita rasain. Tapi, ada satu orang yang bisa kalian jadiin bahan perbandingan buat jadi lebih baik in order to achieve your goals; your own past self. Kalau kalian selalu merasa lebih buruk dari orang lain, coba tengok ke belakang, apa kalian yang sekarang lebih buruk dari kalian di masa lalu? Cuma diri sendiri yang bisa dijadiin perbandingan. Nggak cuma adil buat lo yang sekarang, tapi juga buat lo di masa depan.

Kalau kalian punya rasa iri sama orang lain, coba cek lagi tujuannya udah jelas belum? Atau kalau tujuan udah jelas tapi ternyata masih sirik, iri sama diri di masa depan aja, di mana kalian udah berhasil raih apa yang kalian mau. Selamat berkutat bersama tujuan!